0


Juli 2011 dengan tiada terduga saya terpanggil oleh perusahaan tempat saya bekerja untuk berangkat melaksanakan ibadah umroh ke Tanah Suci,. belum pernah naik pesawat terbang sama sekali apalagi pergi ke tanah suci, Saya benar-benar belum bisa membayangkan bagaimana Ka’bah, bukit Marwah dan bukit Shoffah, terbayang nanti kalau Syai pasti naik turun bukit dan panas dan buta atas apa yang akan ia temui di Tanah Suci.
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah ternyata saya diberi ongkos umroh untuk dua orang, ini berarti saya boleh bawa istri ikut kesana, maka begitu sudah positif betul akan diberangkatkan umroh, saya langsung tanyakan ke istri saya .. bu pengin umroh gak ke Mekkah, kalau mau syaratnya mudah, ibu harus sholat tepat waktu, aurat selalu tertutup, berdoa dan baca sholawat haji Insyaalloh gak lama lagi ibu doanya terkabul bisa Umroh ke tanah suci,. dengan tekad bulat dan di tengah kesibukannya saat itu, saya berusaha mencari dana talangan karena ongkos yang ditanggung perusahaan masih kurang, sambil mengurus pasport dan silaturahmi ke sanak family sekalian mohon maaf , karena dua minggu sebelum Ramadhan saya dan istri mau berangkat Umroh ke tanah suci selama 9hari
Saat tiba hari keberangkatan saya menggunakan bus menuju bandara Cengkareng Jakarta, selama perjalanan terus berdzikir inikah yang namanya panggilan Alloh dengan tidak disangka sangka bisa berangkat ke tanah suci, Setelah masuk kedalam pesawat jenis Boeing 747-400 .. Subhanalloh begitu banyaknya penumpang 400 orang lebih belum ditambah barang bawaan, kalao bukan karena izin Alloh gak mungkin bisa terbang, Setelah 9jam penerbangan nonstop akhirnya pesawat mendarat di Madinah, langsung menuju hotel kira-kira 300 meteran dari masjid Nabawi, Subhanalloh , Alhamdulillah akhirnya saya bersama istri bisa sholat isya di masjid Nabawi,.. Subhanalloh begitu luasnya lebih luas dari stadion persib didalamnya dipenuhi dengan ornamen2 dan ukiran yang terbuat dari emas, hawanya sejuk berAC diluar masjid suhu 45C, Setelah selesai sholat saya bertemu kembali sama istri di salah satu sudut diluar masjid ,. kemudian saya jalan jalan dulu sambil lihat2 pedagang kaki5 sekalian mengenal medan supaya tidak nyasar, selama 3 malam di Madinah sempat sholat di Raudhoh dan ziarah ke tempat2 bersejarah disekitaar Madinah, selepas Lohor perjalanan dilanjut ke Mekkah..
Setelah mandi dan berpakaian ihrom kemudian checkout dari hotel untuk menuju Mekkah, kira-kira perjalanan di 12km bus berhenti di BirAli ini namanya daerah miqot /batas yang dari arah Madinah, disini kita sholat sunah ihrom dan niat Umroh, nah mulai saat inilah segala macam larangan yang membatalkan Umroh berlaku sampai nanti kita melaksanakan tahallul. Perjalanan dari sini menuju Mekkah masih 400 km lebih yang ditempuh 6 jam lebih,.. selama perjalanan mengucapkan Talbiyah, dzikir , Subhanalloh sepanjang perjalanan dikanan kiri jalan hanya berupa gunung batu dan padang pasir hanya sedikit dijumpai perkampungan penduduk , tak terlihat ada tanaman yang menghijau.. kurang lebih jam 10malam WAS sampai di Mekkah langsung menuju hotel simpan barang, makan malam dan kira-kira jam 01.00 WAS menuju Masjidilharam untuk melaksanakan Thowaf,.. Alhamdulillah Subhanalloh tak terasa air mata menetes saat memasuki pintu utama Masjidilharam dan melihat Ka`bah
Selama thowaf saya sambil berdoa, mohon ampun dari dosa, baca sholawat, dan baca 7surat untuk menandakan thowat telah dilaksanakan 7kali putaran, setelah itu berdoa di makom Ibrohim dan sholat sunah, Kemudian dilanjut Syai 7balikan dari bukit Marwah ke bukit Shoffah,.. setelah selesai Syai dilanjut gunting rambut atau Tahallul,. maka selesailah sudah rangkaian ibadah Umroh.dan smua yg tadinya diharamkan menjadi halal, kemudian saya masih penasaran tanya sama pembimbing pak mana bukitnya kok gak ada saya kira naik turun bukit, setelah dikasih tahu ... ow itu bukitnya ada dibawah jadi tadi kita Syai di bangunan lantai dua. Alhamdulillah walau sedikit pegel dan mata sedikit memerah akhirnya dapat dilaksanakan dengan lancar. kemudian kami kembali ke hotel untuk ganti pakaian dan istirahat sebentar kemudian berangkat lagi ke Baitulloh untuk sholat subuh berjamaah, selama 3 malam di Mekkah kami gak menyianyiakan kesempatan ini untuk selalu beribadah di Masjidilharm dan sholat sedekat mungkin ke Ka`bah,.. setelah makan malam bada isya istirahat kemudian jam01.00 WAS berangkat lagi ke Masjidilharam sholat tahajud, baca quran, dzikir dll sampai menjelang subuh,
Tibalah saatnya hari terakhir di Mekkah kebetulan hari Jumaat maka takdisiasiakan kesempatan ini untuk sholat Jumat di dekat Ka`bah,. karena ada info akan checkout setelah makan siang,.. sedangkan teman yang lain tidak Jumatan hanya Thowaf wada, tapi dengan tekad bulat saya tunda Thowaf wada setelah sholat Jumat,.. Subhanalloh baru jam 10.00WAS Masjidil haram sudah penuh jamaah, dalam situasi yang panas terik tapi di lantai dekat Ka`bah alhamdulillah tidak terasa panas beda dengan lantai diluar masjid. Begitu sholat Jumat selesai saya langsung Thowaf wada kemudian cepat2 kembali ke hotel checkout untuk menuju ke Jeddah,.. Alhamdulillah walau makan siang tertinggal tapi bus yng dicharter untuk ke Jeddah belum datang, jadi bisa berangkat bersama rombongan.
Sungguh pengalaman yang tak terlupakan selama Thowaf wada tsb istri saya selalu menangis terisak isak tak terbendung airmatanya terus mengalir,, pokoknya dari awal sampai akhir Thowaf cuma kebanyakan hanya mengucapkan doa sapujagat, begitu juga saya airmata terus mengalir rasanya berat berpisah dengan Baitulloh selalu mohon panjangkan usia dan beri kesehatan sehingga suatu saat nanti bisa kembali lagi ke Baitulloh.,
Tepat jam 14.00WAS bus datang setelah rombongan semua naik lalu berangkatlah kita ke Jeddah untuk transit semalam , karena baru kesokan harinya saya dan teman2 kembali ke Indonesia. sebelum tiba di hotel Jeddah singgah dulu di sebuah pantai dan sholat ashar di Masjid terapung sambil menikmati pemandangan setelah itu chckin di hotel AL-Azhar Jeddah menjelang senja, sambil istirahat iseng2 nyalakan teve, astaghfirulloh disini banyak chanel teve dari luar negeri yang penuh tontonan aurat, berbeda dengan di Madinah dan Mekkah hanya ada satu chanel teve lokal saja.
Keesokan harinya Minggu saya dan istri melihat lihat sebuah masjid yang lain dari yang lain karena di halaman masjid tsb adalah tempat untuk melakukaan qishos / hukuman pancung terpidana mati,.disitu masih terlihat tetesan darah terhukum katanya Jumat kemaren ada yang dieksekusi.. saya merenung dalam hati kalau ini diterapkan di negara kita untuk menghukum koruptor insyaalloh negara kita tidak akan terpuruk ekonominya dan makmur rakyatnya. Setelah dari situ saya pergi ke tempat shoping namanya AL-Balad sekalian menghabiskan uang real dan menyimpan selembar saja buat kenang2an,
Setelah makan siang di hotel saya dan rombongan langsung checkout kemudian menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk kembali lagi ke tanah air naik pesawat maskapai yang sama jenis boeing 747-400 berangkat dari Jeddah bada maghrib nonstop langsung ke Cengkareng, Alhamdulillah pesawat mendarat dengan selamat, dijemput sama sanak family yang ada di Jakarta begitu ketemu langsung salaman. berpelukaan dan isak tangispun terjadi lagi, setelah barang bagasi terkumpul, melanjutkan perjalaanan kembali ke Bandung , Alhamdulillah menjelang azan maghrib saya dan istri sampai kerumah , . dan mengalirlah kembali air mata ini demikian pengalaman saya pertama kali naik pesawat langsung pergi wisata Umroh ke tanah suci, smoga tulisan ini menjadi penyemangat menggugah hati pembacanya punya keinginan ibadah ke tanah suci, mohon maaf bila ada kesalahan,

Dikirim pada 23 Oktober 2011 di Renungan

Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan. "Mengayuh sepeda ke Kerajaan dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami melakukan perjalanan dengan cara ini sehingga kita siap untuk menjalani kerasnya ibadah haji," kata Cairncross, yang berprofesi sebagai perencana kota, sepeti dikutip arabnews.com.
Di Cape Town mereka kuliah hukum Islam di sebuah universitas. Cairncross hobi berselancar angin, Haron hobi kickboxing dan mendaki gunung. Cairncross kemudian kursus perencanaan kota yang kemudian mengantarnhya kepada dunia kerja. Mereka mengaku bahagia begitu tiba di perbatasan Arab.
Mereka memulai perjalanan pada 7 Februari 2010. Ini adalah perjalanan haji pertama mereka. "Kami bisa naik pesawat, tapi kami menghargai perjalanan yang berbeda. Jadi kami memilih menggunakan sepeda kami. Bersepeda adalah kegiatan yang paling kami sukai," kata Cairncross.
Senja tiba, mereka akan mencari masjid atau memasang untuk beristirahat. Selepas Subuh, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Selama perjalanan, Selama perjalanan,eka menemukan orang-orang yang ramah dan menyambut baik mereka. Orang-orang salut atas perjalanan haji mereka. Tawaran makan pun berdatangan selama di perjalanan
Mereka membawa bekal yang minim. Tawaran bantuan uang pun berdatangan kepada mereka. Di perbatasan Arab, petugas keamanan juga menyambut ramah dua jamaah yang harus pula turun naik pegunungan dengan mengayuh sepeda. Melewati sembilan negara selama sembilan bulan, mereka sering mengganti ban dan memperbaiki rantai sepeda. Masalah bahasa sedikit menjadi kendala dalam perjalanan mereka. Tapi, mereka bisa mengatasinya. Selesai berhaji, mereka akan pulang melalui Afrika Barat.
Liputan,6 com mekkah,(AN/ARI)

Dikirim pada 30 Oktober 2010 di Renungan
24 Sep

Istilah Islam KTP, yang sejak lama kita kenal, kini tidak banyak lagi digunakan. Yang disebut Islam KTP adalah orang yang di dalam KTP disebut beragama Islam, tetapi dianggap bukan pemeluk Islam yang taat karena tidak menjalankan ibadah ritual seperti salat, zakat, atau haji. Kalau mereka berpuasa dan berderma, mungkin tidak seluruh puasa dan derma itu sama dengan puasa dan zakat yang sesuai dengan syariat Islam. Terkesan istilah Islam KTP bermaksud menunjukkan bahwa mereka tampaknya Islam, tetapi bukan Islam yang sesungguhnya. Sekitar 60 tahun lalu, Clifford Geertz memunculkan istilah abangan dan santri. Kelompok abangan ialah mereka yang disebut Islam KTP. Tidak sulit membedakan kelompok abangan dengan santri.
Secara bertahap, sesuai dengan pertambahan usia dan perkembangan masyarakat, mereka yang dulu disebut Islam KTP itu mulai belajar tentang Islam. Banyak di antara mereka yang beribadah salat dengan baik. Tidak sedikit di antara mereka yang pergi haji. Bahkan, ada yang lebih taat daripada mereka yang sejak dulu termasuk kelompok santri. Masjid dalam kampus PTN terkenal, seperti UI, IPB, ITB, UGM, dan ITS, menjadi basis kegiatan anak muda Islam terdidik.
Setelah ormas-ormas dan partai Islam menerima Pancasila, batas antara abangan dan santri makin samar. Di mata pemilih kalangan santri, partai Islam tidak jauh berbeda dengan partai berasas Pancasila yang juga ikut berjuang bagi aspirasi politik bernuansa Islam. Banyak perempuan yang dulu termasuk kelompok abangan atau Islam KTP kini menggunakan jilbab. Kantor-kantor, hotel-hotel, bandara, stasiun KA, dan pelabuhan menyediakan musala bagi masyarakat luas. Pompa besin berlomba menyediakan musala yang bersih dan nyaman. Sungguh suatu perubahan yang menggembirakan.
Setelah banyak sekali mereka yang kita sebut Islam KTP menjalankan ibadah mahdhoh (ritual) dengan tekun, apakah hampir semua muslim di Indonesia bisa kita sebut sebagai pemeluk Islam yang taat? Kalau kriteria Islam taat itu adalah bersalat, berhaji, dan berderma, jawabannya pasti positif. Tetapi, kita perlu meninjaunya dari sudut pandang yang lebih luas. Kita saksikan di dalam kehidupan sehari-hari terdapat realitas yang amat bertentangan dengan fakta itu. Praktik korupsi makin marak di pusat maupun daerah. Kejujuran atau sikap amanah masyarakat tidak menggembirakan. Rasa saling percaya dalam masyarakat menipis. Sudah banyak anak Islam seusia pelajar SMP yang berhubungan seks. Amat sulit bagi kita menjelaskan kontradiksi seperti itu.
Salat, puasa, dan haji adalah simbolisasi ibadah mahdhoh, yang bersifat ragawi. Substansi atau tujuan tiga ibadah itu, yang bersifat batiniah, tidak berbeda. Dengan salat, kita diharapkan tercegah dari perilaku keji dan mungkar. Seberapa banyak umat Islam Indonesia yang bisa mencapai tingkat seperti itu? Bukan hanya orang awam, tetapi juga banyak tokoh.
Menurut surat Al Baqarah ayat 183, ibadah puasa diharapkan membuat kita menjadi orang yang bertakwa. Ayat 188 surat tersebut berbunyi, “Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa padahal kamu mengetahui.”
Kini kita menyaksikan banyak sekali muslimin di Indonesia, termasuk kaum terpelajar, pejabat, kelompok profesional, bahkan mungkin sedikit tamatan pesantren, yang berpuasa Ramadan, tetapi ternyata tidak mencapai dampak positif dari ibadah mahdhoh itu seperti yang dipesankan Al Baqarah ayat 183-188. Banyak di antara kita yang masih memperjualbelikan keadilan. Apa sebutan yang tepat bagi mereka yang berpuasa tetapi dengan sadar terus-menerus melanggar larangan Allah? Apakah mereka itu kita sebut Islam KTP atau Islam yang taat?
Kita juga menyaksikan banyak muslimin yang sudah berhaji (dan mungkin berumrah berkali-kali), tetapi dampak ibadah haji dan umrah itu belum sesuai dengan harapan. Seakan ibadah vertikal (kepada Tuhan) dan perilaku sosial (yang berpotensi ibadah) tidak menyambung dan terputus, bahkan bertolak belakang. Padahal, seharusnya ada kaitan yang kuat antara ibadah ritual (vertikal) dan sosial itu.
Kita perlu bertanya, mengapa Denmark yang konon mayoritas penduduknya tidak percaya kepada Tuhan bisa menjadi negara yang paling bersih dari korupsi dan Indonesia yang sering kita klaim sebagai negara agamais (religius) ternyata termasuk negara yang indeks korupsinya tidak baik?
Kita juga menyaksikan bahwa jutaan umat Islam masih membutuhkan uluran tangan sesama muslim. Potensi zakat baru tergali antara 5-20 persen. Syukur dalam beberapa tahun terakhir pengumpulan zakat, infak, dan sedekah meningkat tajam. Kondisi yang kontradiktif itu sudah berlangsung lama sekali dan tidak banyak di antara kita yang mengkaji secara serius penyebab hal itu terjadi. Kita tetap asyik dengan ibadah mahdhoh dengan cara seperti itu, seakan tidak peduli dengan kontradiksi tersebut. Para mubalig masih tetap asyik bicara tentang dampak positif ibadah-ibadah itu tanpa menyinggung dampaknya yang nyata dalam masyarakat, yang tidak nyambung dengan keindahan ibadah tersebut. Tentu tulisan ini tidak bermaksud mengurangi ibadah ritual, tetapi mendorong upaya mengkaji penyelarasan ibadah ritual dengan perilaku sosial kita.
Apakah sebutan yang tepat bagi muslimin/muslimat yang beribadah mahdhoh, tetapi perilakunya buruk? Islam KTP atau Islam taat? Kalau taat secara ragawi, tetapi tidak taat secara batiniah, apakah masih layak disebut Islam yang taat? Tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Atau lebih baik dihilangkan saja istilah Islam KTP dan Islam taat? Yang penting, umat Islam harus taat menjalankan ibadah ritual dengan baik sehingga berdampak positif terhadap perilaku kita. Kita berjuang menjadi orang baik, yang berlaku baik terhadap orang lain, apa pun agamanya, apa pun pangkatnya, tidak peduli kaya atau miskin.
Sumber: jawapos, 16/09/10

Dikirim pada 24 September 2010 di Renungan


Sekali bernafas, manusia memerlukan 0,5 liter udara. Pernahkah kita merenungkan, minimal merasakan rasa syukur?
Oleh: Syaefudin

Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.

Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.

Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.

Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter, data nilai tukar dollar Bank Indonesia pada 9 November 2009), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.

Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.

Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah, “katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

Dikirim pada 29 Juni 2010 di Renungan
Awal « 1 2 3 4 » Akhir


connect with ABATASA